Langsung ke konten utama

Renungan Tepat pukul 12

Aku pikir sedang berjalan, padahal selama ini sudah berlari kencang sekali. 
Setelah dirunut kembali, iya benar sudah kencang sekali kuda telah dipacu. Mulai dari pesutan lembut hingga keras sekali sampai meninggalkan luka bekas yang sulit di hilangkan. 

Tapi, mengapa sering kali rasa yang timbul seolah tidak pernah berlaku keras. Mengapa ? Apakah fokus ku hanya pada hasil ? Padahal telah banyak perjalanan ini dilakukan. Apakah rasa syukur perlahan tergerus akan kerasnya hati ini ? Padahal begitu banyak hasil yang ternikmati telah digelontorkan. 

Malah terkadang, banyak mndapat celetukan "Gilak ya, mantap betul sal", Atau "Mantap kali sal" atau "Ciye Sally" dan banyak lagi. Bukan kah harusnya itu sudah cukup ? cukup membuat bahagia ? Apalagi coba ? Apa karena bukan yang diharapkan ? atau kadang setan suka bisik ' ini baru remah-remah yang kau harapkan '. Bukankah, sebegitu seringnya, membaca tersirat ataupun tersurat apa yang diharapkan pasti memberi luka yang mendalam dan membekas lebih dalam. Bukan kah itu hanya memperkeruh suasana ? 

Terus mengambil dalih "kan manusia emang gitu". Maksudnya ? Belum mendapat apa yang diharapkan, belum puas. Urusan nanti mendapat petaka, urusan nanti. Iya, nanti !!



Jalan terkadang sudah terseok menahan sakit, tapi tetap memecut lebih keras. Terus bahagia ? TENTU TIDAK. PUAS ? IYA !!



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upa - Upa Tondi ; Jutaan semangat Untuk Yang di Cinta

Assalamualikum opung-opung sudena :) *Sedaappp Di post kali ini, si butet mau bercerita sedikit tentang kebudayaan. Agar nanti cucu keturunan paham akan adat istiadat :). Okesiip, karena udah di mulai dengan kata sapaan orang batak. Pasti sudah pada tau donk ya, adat istiadat dari negri mana yang saya akan bahas *tampang kece :p. Benar, kali ini saya ingin membahas tentang adat istiadat dari tanah batak, biar percaya dulu semua orang kalau saya punya darah batak jadi gak cuma sekedar dompleng nama belakang " Ritonga ". Horassss !!  Ada yang sudah pernah mendengar " Upa-Upa " yups, menurut hasil googling sekejap dan bertanya pada tetua di keluarga ternyata kata " Upa-Upa Memiliki arti secara bahasa adalah pemberian . Sedangkan secara istilah adalah suatu ritual yang dilakukan oleh orang yang berhajat dengan mendoa’kan orang yang di upa- upa agar memperoleh kebaikan - Kutipan wawancara dari saudari Nurul Muthma’innah, IAIN- SU, sem I/ BKI IV, asal Panyabun...

Hari #4

 Jumuah barokah, semoga keberkahanya memberi ketenangan dan kedamaian. Aamiin.  === Kemarin malam, pulang ngajar sambil dikendaraan memikir ulang pembahasan yang di ulas. Sambil mikir dan ngulang-ngulang ada bagian yang kurang pas atau gimana. Hal ini sering sekali terjadi , karena bukan merasa sok paling benar, berbagi ilmu itu besar sekali ganjaranya. Ingat kan, ada 3 amal yang tak putus saat seorang manusia meninggal, salah satunya adalah ilmu yang bermaanfaat. Nah, kalau ternyata ilmu yang dibagi adalah ilmu yang salah, gimana coba ? haha.  Berbagi ilmu a.k.a mengajar adalah hal yang saya lakukan dari masih duduk dibangku sekolah. Waktu masih duduk dibangku sekolah dasar, acap kali ditunjuk untuk membantu teman yang sulit memahami pelajaran dengan cepat. Pemikiran kala itu adalah Aku hebat wkkw. Sekarang-sekarang, mengajar itu bagian dari mengisi waktu luang, mengisi pundi amal buat bekal nanti dan yang  tidak bisa dielakkan adalah cara untuk mengisi dompet, pas...

Hari #1

Saya kira, menikmati makanan enak itu adalah hak bagi segenap manusia yang ada di muka bumi. Jangan takut kalau mau makan, jangan sok kayak model papan atas yang mewajibkan punya ukuran badan yang minimalis supaya indah di pandang. Tapi kan gak semua manusia punya tuntutan yang seperti demikian, contohnya saya ! kwkwkw  Bisa makan dengan nikmat, selain butuh uang untuk menyediakan hal tersebut kita juga butuh dana untuk merawat tubuh supaya tidak sakit. Coba bayangkan, andai tersedia jejeran makanan yang lezat nan nikmat kalau kita sendiri tidak dalam keadaan baik misal demam, meriang, menggigil bisa di pastikan makanan nikmat tersebut tiada artinya.  Nah, sekarang coba lagi diperhatikan setelah uang dan kesehatan, saat menikmati juga butuh teman biar bumbu di makanan yang tadinya kurang garam sedikit, atau kurang micin sedikit jadi makanan sempurna yang ketika di telan. Bak katanya, teman yang mendampingi itu seperti micin alami ciye ciye ciye  1. Uang  2. Kesehatan...